Sejarah Legenda Pedang Katana

Yumna - The Warrior Girl by MSV-Pictures Deviantart

Katana

Berdasarkan catatan, penggunaan kata katana (刀) untuk membedakan ukuran pedang Jepang pertama kali muncul pada masa keshogunan Kamakura (1185-1333). Isitilah ini acap digunakan untuk mendeskripsikan pedang berbilah panjang. Panjang bilah katana mengalami beberapa perubahan pada kurun waktu tertentu. Pada abad ke-14 dan awal abad ke0-15, bilah katana memiliki panjang antara 70 – 73 cm. Di awal abad ke-16, panjang rata-ratanya berkurang hingga mencapai 60 cm. Di akhir abad ke-16, panjangnya kembali ke sekitar 73 cm.

Katana sering dipasangkan dengan pedang kecil yang disebut wakizashi atau belati kecil yang disebut tanto. Katana yang dipasangkan dengan wakizashi atau tanto disebut daisho. Hanya seorang samurai yang berhak mengenakan daisho sebagai penanda kedudukan sosial dan kehormatannya.

Selama periode Meiji, golongan samurai secara bertahap dibubarkan dan hak-hak istimewa yang dimiliki dicabut, termasuk hak untuk membawa pedang di depan umum. Pelarangan ini memiliki pengecualian bagi mantan samurai bangsawan (daimyo), anggota militer, dan polisi.

Para pandai besi kemudian mengalami kesulitan mencari nafkah dan mulai membuat barang-barang lain selama periode modernisasi militer pang. Aksi militer Jepang di Cina dan Rusia selama periode Meiji menghidupkan kembali minat pada pedang dan mencapai puncaknya pada periode Showa. Di masa ini, pedang diproduksi dalam skala besar. Pedang Jepang yang diproduksi antara tahun 1875 hingga 1945 disebut sebagai Guntō (pedang militer).

Menjelang Perang Dunia II dan selama perang, semua perwira Jepang diharuskan memakai pedang. Untuk memenuhi kebutuhan, banyak perajin yang tidak memiliki kemampuan memadai diberi kepercayaan membuat pedang. Pasokan baja berkualitas yang terbatas serta teknik baru yang digunakan membuat pedang yang dihasilkan tidak sebagus pedang tradisional. Pemerintah kemudian memberikan cap khusus pada pedang hasil produksi massal tersebut untuk membedakannya.

Saat ini pedang-pedang tersebut banyak dikoleksi sebagai bagian dari bukti sejarah. Sementara di Jepang sendiri pedang jenis ini kerap dimusnahkan karena dianggap tidak melalui proses pembuatan yang “benar.”

Penggunaan katana oleh militer Jepang membuat senjata genggam ini menyebar ke berbagai penjuru dunia, utamanya di benua Asia. Di Indonesia sendiri, katana masuk secara besar-besaran bebarengan dengan kedatangan tentara pendudukan Jepang yang mengambil alih kekuasaan Belanda atas Indonesia. Berbagai pertempuran yang kemudian terjadi membuat banyak gunto yang berpindah ke tangan para pejuang kemerdekaan dan menjadi warisan keluarga. Pedang tradisional Jepang pun menjadi koleksi beberapa orang meski jumlahnya tidak banyak selain karena langka juga harganya yang cukup tinggi.

Comments

comments