Stasiun Gubeng

Didalam pertempuran 10 november 1945 di Surabaya terjadi peristiwa  Kapten Yoshimura keluar dari kegelapan gerbong, kepalanya ditutupi topi lebar yang menutupi mukanya. Di Stasiun Gubeng ia  mengenakan jas panjang menuju pasar di dekatnya.

Stasiun Surabaya Gubeng adalah salah satu diantara tiga stasiun kereta api di kota Surabaya selain Stasiun Surabaya Kota dan Stasiun Pasar Turi. Stasiun Surabaya Gubeng merupakan stasiun terbesar dan menjadi tempat keberangkatan utama dari semua kereta api jalur selatan dan timur di kota Surabaya.

Pada awalnya stasiun ini didirikan oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) pada tahun 1878 untuk keperluan mengangkut tentara.

Bangunan lama Stasiun Gubeng dibangun pada sisi barat rel dengan gaya aristektur Indische yang kental dengan ornamen besi tempa baik pada pinggiran atap maupun pada jalusi pintu dan jendela. Bangunan ini sudah mengalami beberapa kali renovasi, diantaranya atap peron yang direnovasi pada tahun 1905 dan atap bangunan lobby utama direnovasi pada tahun 1928. Setelah digunakan untuk waktu yang lama, pada tahun 1990 ditambahkan bangunan baru di sisi timur rel yang lebih luas untuk menampung pertumbuhan penumpang yang semakin tinggi.

Karakter arsitektur bangunan pintu masuk atau hall utama Stasiun Gubeng berkesan kokoh namun akrab karena adanya pintu dan jendela-jendela lengkung yang berderet di sepanjang teras bangunan sehingga memberikan kesan terbuka. Jendela-jendela dihias dengan jalusi ornamen besi berpola floral yang merupakan ciri seni dekorasi Art Nouveau yang populer pada akhir abad 18.

Sumber:http://indonesianheritagerailway.com

Makna Bambu Runcing (Fakta Sejarah)

Dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, para pemuda dan rakyat berkumpul di halaman hotel Yamato dalam jumlah yang sangat besar dan massa yang ramai. Ada yang membawa parang, clurit, beberapa senapan dan bambu runcing.

Bambu runcing bagi Indonesia bermakna sangat dalam, tidak ada gambar dan film sejarah yang tidak menampilkan bambu runcing, bahkan bambu runcing sudah seperti “senjata bangsa” yang tidak khas daerah (seperti rencong dari aceh). lebih dari itu bambu runcing selalu digunakan sebagai semangat kebangsaan bahwa selogan yang sering kita dengar seperti, saat perjuangan kita bisa merdeka hanya dengan bambu runcing melawan senjata api. tapi mungkin sebagian diantara kita selalu menggap bahwa bambu runcing adalah bagian dari kemiskinan dan keterbelakangan, mungkin bisa dibenarkan juga tapi selalu ada fakta unik dalam setiap sejarah, begitu juga dengan bambu runcing.

awal sejarah munculnya bambu runcing cukup unik. ketika armada Jepang mendekati Pulau Jawa akhir Februari 1942, Belanda mengira akan menerjunkan pasukan payung Kalijati. maka diperluaslah ribuan bambu yang diruncingkan ujungnya untuk menyambut pasukan para Jepang. ternyata Jepang mendarat di pantai laut dekat Eretan, langsung menuju Subang dan mengancam Kalijati, yang segera jatuh juga. ribuan bambu tadi (yang niatnya digunakan oleh belanda untuk jebakan para penerjun payung Jepang) karena ujungnya runcing oleh Jepang justru dijadikan alat latihan baris-berbaris para pemuda Seinendan, Keibodan, Gakutotai, Hizbullah dan lain-lain. para pemuda dengan penuh semangat mempergunakan “takeyari” ini untuk ditunjukan kepada musuh Jepang yakni sekutu, termasuk Belanda.

tapi setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, oleh para pejuang ditunjukan dan digunakan untuk melawan Jepang maupun Belanda, sehingga bisa dibilang senjata makan tuan eh makan tuan-tuan. ceritanya, Dr. Moestopo membakar ujungnya sampai hangus dan dimasukan kedalam kotoran kuda (telotong, Jawa). dan digunakan untuk menakut-nakuti Jepang, akhirnya Jepang lari terbirit-birit karena takut tetanus, dan Jepang pun menyerah di ujung bambu runcing. dari sinilah awal mulai bambu runcing menjadi buah bibir para pejuang, tentu saja cara penggunaannya tidak hanya seperti itu. dalam periode selanjutnya bambu runcing digunakan untuk bertempur secara nyata. melawan senjata yang lebih moderen, biasanya diatas bambu runcing diikatkan kain dua warna, merah dan putih, sebagai simbol bendera yang dikibarkan saat proklamasi (saat itu belum mengenal bendera negara) untuk mengingatkan pejuang bahwa Indonesia telah merdeka.

www

 

Karena bambu runcing baru muncul dalam Perang Dunia kedua, dan tidak pernah digunakan dalam perang tradisional seperti Perang Aceh maupun Perang Dipenogoro, makan bambu runcing termasuk “Senjata Moderen” bangsa Indonesia. keampuhan senjata ini diakui oleh bekas lawan-lawan, yang terheran-heran senjata tank-nya akhirnya dapat dihancurkan dengan bambu runcing yang amat sederhana itu.

bambu runcing memang alat teramat sederhana, akan tetapi ditangan para pejuang heroik dan patriotik mempunyai keampuhan luar biasa, sehingga dapat mengalahkan persenjataan yang lebih moderen, seperti diakui oleh bekas lawan-lawan kita. bambu runcing sebagai weapon system merupakan perkembangan dari Perang Rakyat Semesta dalam Sishankamrata yang tergolong moderen dibanding dengan perang konvensional yang tidak mengikusertakan rakyat. Sistem persenjataan Indonesia mengenal adanya sistem senjata tekhnologi (sistek) dan sistem senjata sosial (sissos).

Sumber:

http://politik.kompasiana.com/2010/04/20/makna-bambu-runcing-fakta-sejarah-122827.html

www. thwcrowdvoice.com

Fakta Unik Tentara KNIL

Kegarangan dari tentara KNIL ternyata mempunyai keunikan, Fakta unik ini berdasarkan studi Capt. R.P. Suyono terhadap berbagai literatur Belanda yang dtuangkannya dalam buku Peperangan Kerajaan di Nusantara (penelusuran kepustakaan sejarah), terbitan Grasindo tahun 2003.

1. Seragam KNIL

Sejak dibentuk pada tahun 1830, seragam KNIL selalu mengalami pergantian. Pada tahun 1894 seragam KNIL  dinamakan syako dengan topi helm dari gabus. Topi gabus tersebut baru diganti pada tahun 1910 dengan bahan yang terbuat dari bambu. Pada tahun 1915 KNIL mendapat seragam baru yang tebal dan susah dicuci sehingga akhirnya diganti dengan bahan linen dengan celana yang lebih tipis. Pada tahun 1936 seragam KNIL adalah kain hijau yang dinamakan tenunan Garut.

Fakta lain adalah ketika berada di tangsi, hanya perwira dengan pangkat minimal Sersan –rata-rata orang Eropa– yang boleh mengganti baju dengan pakaian biasa sedangkan para prajurit pribumi dilarang mengganti baju sehingga selalu memakai seragam. Entah berapa banyak seragam yang dimiliki oleh para prajurit pribumi ini, jika cuma satu berarti tidak pernah digantinya.

2. Kehidupan di Tangsi

Tangsi merupakan tempat tinggal para prajurit KNIL, entah yang masih bujangan maupun yang sudah menikah. Tangsi biasanya dibangun di tengah kota, mungkin untuk mempermudah akses. Prajurit yang masih bujangan tidur di barak yang tempat tidurnya berjejer sedangkan yang sudah menikah baraknya disekat dengan ukuran 3×4 meter. Ruangan ini hanya cukup untuk satu tempat tidur saja, oleh karena itu anak-anaknya ditempatkan di bawah kolong tempat tidur sehingga muncul istilah anak kolong bagi anak-anak polisi atau tentara.

3. Dardanel

Dardanel merupakan sebutan bagi seorang prajurit pribumi yang harus menjaga keselamatan seorang perwira Belanda yang menjadi atasannya. Ternyata perwira Belanda cukup pengecut karena harus dilindungi oleh seorang prajurit pribumi. Mungkin hal ini juga didasarkan pada pertimbangan bahwa pasukan akan kocar kacir jika kehilangan komandannya. Doktrin yang ditanamkan pada seorang dardanel adalah sungguh memalukan atau nista jika seorang dardanel selamat sedangkan perwira yang dilindunginya meninggal. Dengan kata lain dardanel tersebut harus rela mengorbankan nyawanya bagi perwira yang dilindunginya.

4. Kebiasaan Prajurit Jawa

Selain tidak memakai sepatu hingga tahun 1905 dan tergabung dalam kompi yang bertugas untuk menenangkan dan menetralisir situasi pasca peretempuran, prajurit Jawa juga memiliki keunikan dari kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan. Kebiasaan tersebut adalah sangat bergantungnya prajurit Jawa pada bakul jamu. Mungkin jamu mengembalikan stamina mereka setelah bertempur. Pada beberapa foto yang dihadirkan oleh Suyono terlihat prajurit Jawa sedang beristirat sambil menikmati Jamu yang dibuat oleh seorang mbok jamu.

Demikian beberapa fakta unik di balik kegarangan pasukan KNIL yang terkenal kejam selama menumpas perjuangan rakyat di berbagai daerah. Kemiskinan dan tidak adanya wawasan tentang kebangsaan pada saat itu membuat mereka menerima pekerjaan sebagai prajurit KNIL meski mengalami berbagai kesulitan.***

Sumber:http://sejarah.kompasiana.com/2012/02/25/beberapa-fakta-unik-di-balik-kegarangan-pasukan-knil-438139.html

 

Tentara KNIL Collection Cards - Battle of Surabayaget-it-on-google-play_3

Sejarah Hotel Yamato Surabaya

 

yamato sekarang

 

Hotel Yamato yang dahulu bernama Hotel Majapahit adalah salah satu saksi sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa 10 November 1945 dimana perjuangan heroik dari arek – arek Surabaya untuk membela tanah air tercinta Indonesia dari para penjajah, peristiwa perobekan bendera Belanda oleh arek – arek Surabaya merupakan sebagian peristiwa yang terjadi di Hotel Yamato. Hotel Yamato yang berdiri sejak tahun 1910 oleh Sarkies Bersaudara dari Armenia melalui beberapa kali perubahan nama hotel tersebut diantaranya dahulu bernama LMS, kemudian menjadi Hotel Oranje, lalu berubah menjadi Hotel Yamato dan juga Hotel Hoteru. Sampai sekarang lebih dikenal dengan nama Hotel Majapahit yang berada  di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.***

 

Battle of Surabaya Angkat Pencerahan Perjalanan Manusia

“Battle of Surabaya dibuat dengan taste Hollywood itu maksudnya apa pak?,” tanya presenter Isyana Bagus Oka dalam talk show Segmen Public Corner MetroTv, Selasa 11 Juni 2013 pukul 14.30 wib.

Pertanyaan itu ditujukan kepada salah satu narasumber, yakni Prof. Dr. M Suyanto, MM  dalam kapasitas sebagai Penulis Cerita dan Eksekutif Producer film animasi 2 dimensi Battle of Surabaya (BoS).

Narasumber lainnya adalah Hari Waluyo, Dirjen Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain dan Iptek Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Menjawab pertanyaan itu, Prof Suyanto menyebutkan, salah satu ciri khas film Hollywood adalah ada dramatisasinya, yang jarang ditemukan di film-film Indonesia.

Film BoS dikemas seperti manusia. Ada perjalanan pencerahan manusia. Dalam film BoS ini dimulai dari seorang penyemir sepatu, yang pada awalnya hanya sekedar untuk membiayai hidup si tokoh dan keluarganya. Itu ego keluarga. Kemudian di dalam film ini pula ego Musa – sebagai tokoh utamanya – terus naik. “Saya juga butuh untuk membantu bangsa saya”. Itu kata Musa. Setelah itu egonya naik lagi. “Saya akan membantu perdamaian dunia.”

Prof Suyanto menyebutkan, mulai melakukan pengolahan film-film yang diproduksinya dengan taste Hollywood setelah mendapatkan pengalaman dari orang Jepang. Selain film 2D Battle of Surabaya, Prof Yanto juga memproduksi satu film animasi 3 dimensi yang bertajuk: Legend of Ajisaka: Fire and Ice”.

Inti ceritta dari “rasa” Hollywood itu sebenarnya ada tiga babak. Seorang hero masuk di dunia biasa kemudian masuk dunia petualangan setelah itu kembali ke dunia biasa. Kemudian oleh Prof Suyanto masih dibagi lagi dalam 13 taste. Gambarannya, si tokoh berada di dunia biasa, mendapatkan tantangan, bertemu sang guru, setelah itu baru masuk dunia petualangan dan mendapatkan ujian hidup, ketemu sahabatnya dan ketemu musuhnya. Setelah itu dia mendekati di tempat berbahaya. Dan akhirnya  si tokoh akan berada di antara hidup dan kematian. Dan berhasil menyelesaikan proses kehidupannya.

1 copy

Kenapa STMIK Amikom yang mempercayakan kepada PT MSV Pictures mengangkat tema Battle of Surabaya? “ Karena inilah perang terbesar setelah perang dunia kedua. Tagline nya adalah “tidak ada yang menang dalam perang,”Prof Yanto menjelaskan.

Kalau kembali pada pertanyaan kenapa latar belakangnya Surabaya dan kenapa tokoh-tokohnya ada di situ? Menurut Ketua STMIK Amikom Yogyakarta ini, sejumlah tokoh nasional memang dimunculkan. Di situ muncul tokoh Presiden Soekarno, Bung Tomo, kemudian Residen Sudirman. Penulis cerita juga menciptakan tokoh-tokoh fiktif misalnya Musa sebagai tokoh utama.

“Kenapa Musa? Jawabnya, Musa adalah nabinya orang Yahudi, orang Islam, orang Kristen. Jadi kalau masuk Hollywood nama itu sudah dikenal. Ini penting sekali untuk bisa menggapai pasar disana.”

Menjawab pertanyaan presenter Isyana ihwal SDM yang terlibat, dijelaskan Prof Suyanto, yang terlibat dalam pembuatan film ini semuanya orang Indonesia.

“Yak, semuanya orang Indonesia” jawab tegas Prof Suyanto. “Campuran antara professional dan banyak mahasiswanya. Bahkan ada yang kita ambil dari lulusan anak-anak SMK Animasi dan Multimedia,”ujarnya.***

Pemerintah Perlu Danai Penayangan Film Animasi

Di tengah gempuran produk animasi luar negeri, sejumlah animator Indonesia berusaha memproduksi film-film animasi sendiri. Salah satu studio animasi yang kini sedang berproduksi adalah PT Mataram Surya Visi (MSV) Pictures.

Tak tanggung-tanggung. Dua film digarap sekaligus. Flim animasi 3 dimensi mengangkat judul “The cronical of Java” yang dipersiapkan untuk bertempur di Hollywood. Sedangkan film heroik Battle of Surabaya (BOS) akan dipasarkan di dalam negeri, sebagai produk film animasi layar lebar.

Ruang kerja pembuatan film BOS sangat representatif. Tiga ruang kelas berpendingin udara penuh disulap jadi ruang kerja yang nyaman. Lebih dari 50 orang, yang seluruhnya terdiri dari kawula muda berkiprah menggarap film yang berkisah tentang perjuangan arek Surabaya dalam bertempur melawan tentara Sekutu.

PT MSV Pictures sebagai salah satu BUMA (Badan Usaha Milik Amikom) merupakan jawaban ketika  sejumlah perusahaan animasi terseyok-seyok, MSV justru memantapkan diri sebagai perusahaan di jalur produksi film animasi.

Wajar bila banyak perusahaan animasi gulung tikar. Satu di antara penyebabnya adalah karena stasiun televisi kurang berminat menayangkan animasi lokal. Order tidak ada, perusahaan pun mati. Dukungan pemerintah pun belum memadai. Keadaan ini sangat berbeda dengan di negeri jiran Malaysia yang pemerintahnya sangat mendukung usaha bisnis film animasi.

Dukungan antara lain berupa dana, teknologi, dan promosi. Hasilnya, Upin dan Ipin begitu digemari di Indonesia. Film seri itu bahkan berhasil menembus Disney Channel dan bersanding dengan animasi dunia, seperti Donald Duck dan Lilo & Stitch.

Televisi di Malaysia wajib menayangkan film animasi lokal. Jika ingin seperti Malaysia, tidak perlu porsi tayang berlebihan. Setiap televisi menayangkan film animasi dua jam saja per minggu, film animasi di negeri ini  akan berkembang karena ada kebutuhan, dan pemerintah mendanai penayangan di televisi. (sumber: tekno.kompas.com)

Pengisian Kuesioner Film “BATTLE OF SURABAYA”

DSC_1021 IMG_3250

Peserta kunjungan ke kampus STMIK AMIKOM Yogyakarta yang berasal dari SMK Kesuma Margoyoso Pati dan Universitas Muhammadiyah Surakarta, terlihat sedang mengisi kuesioner yang  diberikan oleh crew Film “BATTLE OF SURABAYA” seusai melihat trailler film tersebut. Dari sebagian peserta yang telah melihat trailler dari film “BATTLE OF SURABAYA” merasa penasaran, selain itu mengingatkan akan perjuangan pahlawan Indonesia dan menceritakan sejarah bangsa Indonesia serta hasil karya orang Indonesia . Dari hasil pengisian Kuesioner banyak yang berharap untuk bisa menonton film ini di bioskop karena mereka sadar betul  generasi muda sekarang yang kurang memahami tentang sejarah bangsa Indonesia dan semoga film ini dapat memberikan hal yang positif kepada masyarakat luas terutama generasi muda.

Kunjungan Forum Mahasiswa Pecinta Game dan Animasi Malang

 

Kali ini PT.MSV Pictures mendapat kunjungan dari  Forum Mahasiswa Pecinta Game dan Animasi Malang. Sambutan hangat dari PT.MSV Pictures kepada sekitar 34 peserta sangat terasa ketika peserta mendatangi studio animasi 2 dimensi dan melihat secara langsung proses pembuatan Film “BATTLE OF SURABAYA”.  Terlihat peserta dari rombongan tersebut yang sangat antusias dalam mengamati proses pembuatan film “BATTLE OF SURABAYA”. Dari kunjungan tersebut peserta mendapatkan banyak ilmu tentang pembuatan film animasi 2 dimensi.

 

kunj malang2

 

Setelah selesai melihat proses pembuatan film “BATTLE OF SURABAYA” dan mendapatkan penjelasan seputar film tersebut, terlihat senyum bahagia peserta dari rombongan yang sedang berfoto di depan logo PT.MSV Pictures.

Page 6 of 6« First...23456