SMK Satria Jakarta Memberikan Respon Positif Terhadap Triller Film Battle Of Surabaya

Tidak henti – hentinya STMIK AMIKOM Yogyakarta mendapat kunjungan dari berbagai kalangan. Pagi tadi tanggal 18 Juni 2013 STMIK AMIKOM Yogyakarta mendapat kunjungan dari SMK SATRIA Jakarta berjumlah sekitar 250 orang. Disela – sela kunjungannya tersebut, peserta diajak untuk melihat trailler film BATTLE OF SURABAYA. Dari peserta yang melihat trailler film tersebut mengungkapkan kekagumannya dan siap untuk melihat film tersebut dibioskop. Maju terus animasi Indonesia!!!

IMG_2454

Hari Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT)

Tanggal 27 September adalah Hari Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT),  hari cikal bakal pos yang ada di Indonesia. Saat itu dengan gagah berani serta  dilandasi rasa tulus ikhlas para pemuda yang tergabung dalam Angkatan Muda PTT telah merebut dan menduduki secara paksa Kantor Jawatan Pos, Telepon dan Telegraf (PTT) dari Pemerintah Jepang. Sebelumnya banyak sekali pejuang – pejuang yang bertugas sebagai pengantar surat. Mereka berkelana dari kampung yang satu ke kampung lain, bahkan daerah – daerah terpencil yang tak mungkin dilalui oleh tentara pejuang karena harus memasuki daerah musuh. Dsisi lain banyak mantan pejuang yang pada masa penjajahan Jepang bertugas sebagai pengantar surat hidupnya dibawah garis kemiskinan, perjuangannya itu seolah dilupakan dan sia-sia tanpa mendapat penghargaan dari negara.

Cerita para pejuang ini juga merupakan salah satu faktor yang mengilhami film Battle of Surabaya. Musa, tokoh utama film ini, berprofesi sebagai kurir surat rahasia bagi pejuang bangsa. Salah satu profesi yang sangat penting pada masa itu. Bagaimana kisah Musa? Dapatkan selengkapnya di Battle of Surabaya the Movie.

Sumber:

– www.okezone.com

Briefing perdana bersama Animation Director baru

Hubungan yang akrab antara Donny, sebagai animation director baru dengan para animator mampu memompa semangat tim Battle of Surabaya (BOS) yang digarap PT. MSV Pictures. Masukan-masukan yang diberikan oleh animation director ini menjadi  bekal bagi para animator BOS. Tidak ada kata membeda-bedakan antara animator  senior dengan animator lain yang masih yunior. Suasana dalam briefing Sabtu siang tadi  terasa guyup. Donny dalam pengarahannya didampingi Produser  film BOS Adi Jayusman, S.Kom.

briefinggg

Ada Apa Dengan Sungai Kalimas Surabaya?

Sungai Kalimas yang saat itu dilalui puluhan dan bahkan ratusan kapal dan perahu. Sungai tersebut merupakan jalur utama untuk mengangkut berbagai barang dan aneka hasil bumi. Selain lebar (20-35 meter) dengan aliran air yang tenang, dipinggir sungai berdiri ratusan gudang dan pabrik. Pabrik-pabrik tersebut konon lebih banyak dari pada yang ada di Batavia sekalipun. Di sekitar sungai juga terdapat pelabuhan dan berdekatan dengan jembatan.

Terdapat dermaga yang dimiliki oleh masing-masing pabrik untuk memudahkan mengangkut dan menurunkan barang. Sehingga pada masa itu pertumbuhan ekonomi dan pemerintahan serta tata kota Surabaya terpusat di sepanjang sungai kalimas (1920). Peran perkembangan ekonomi pun bertahan hingga pertengahan 1950-an. Dan menjadi saksi sejarah bagi Indoneisa. Merdeka!!!.***

Sumber : http://panduanwisata.com

Jembatan Merah Surabaya Saksi Sejarah Bangsa Indonesia

Dalam pertempuran 10 november 1945 Jendral Mallaby adalah Pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur dan juga Perwira Muda Eksekutif Kerajaan Inggris dengan karir cemerlang. Lahir pada 12 Desember 1899, Jendral Mallaby harus menutup usianya menjelang ulang tahunnya yang ke-46 di Jembatan Merah Surabaya  dalam latar belakang yang sangat pelik saat itu.

Jembatan Merah dibentuk atas kesepakatan Pakubowono II dari Mataram dengan VOC sejak 11 November 1743. Dalam perjanjian disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan ke VOC, termasuk Surabaya yang berada di bawah kolonialisme Belanda.

Sejak saat itu, daerah Jembatan Merah menjadi kawasan komersial dan menjadi jalan satu-satunya yang menghubungkan Kalimas dan Gedung Residensi Surabaya. Dengan kata lain, Jembatan Merah merupakan fasilitator yang sangat penting pada era itu.

­­­­Jembatan Merah berubaha secara fisik sekitar tahun 1890an, ketika pagar pembatas diubah dari kayu menjadi besi. Saat ini, kondisi jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya ini hampir sama seperti jembatan lainnya, dengan warna merah tertentu.***

sumber : http://sejarah.kompasiana.com

www.eastjava.com

Soetomo, Seorang Aktor Sejarah

Soetomo atau yang kerap dipanggil Bung Tomo dilahirkan di Surabaya pada tanggal 3 Oktober 1920 di kampung Blauran. Putra dari Kartawan Tjiptowidjoyo ini menempuh pendidikan HIS Surabaya selama 7 tahun dan HBS selama 5 tahun. Bung Tomo sejak remaja sudah berkecimpung dalam berbagai organisasi antara lain seperti :
– Anggota gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia
– Menjadi sekretaris Parindra banting di tembok Duku pada tahun 1937
– Menjadi ketua kelompok sandiwara Pemuda Indonesia Raya sampai Jepang masuk ke Indonesia
Selain itu, Bung Tomo juga bekerja di berbagai tempat seperti :
– Wartawan di harian “Soeara Oemoem”tahun 1937
– Wartawan dan penulis Pojok harian brbahasa jawa Ekspres”tahun 1939
– Redaktur mingguan “Pembela Rakjat” tahun 1938
– Pembantu majalah “Poestaka Timoer”, Yogjakarta
– Wakil redaksi kantor berita “Domei”bagian bahasa Indonesia tahun 1942 – 1945
– Pemimpin redaksi kantor berita Indonesia “Antara”tahun 1945
Bung Tomo juga aktif dalam perjuangan terutama didalam kota Surabaya antara lain :
– Ketua umum BPRI
– Anggota dewan penasehat Panglima Besar Jendral Soedirman
– Ketua Badan Koordinasi Produksi Senjata Seluruh Indonesia
– Anggota staf gabungan angkatan perang RI
– Ketua panitia Angkatan Darat
Disamping itu, bung Karno melantiknya sebagai anggota pucuk TNI bersama dengan Jendral Soedirman, Letjen Oerip Soemoharjo, laksamana Nazir dan yang lain-lainnya.
Bung Tomo yang saat itu menjadi buronan Belanda karena menyiarkan suaranya dari BPRI. Karena Belanda mengincar Bung Tomo dengan sayembara, maka Bung Tomo diungsikan ke Australia oleh kawan-kawan seperjuangannya karena di Australia dianggap aman dan mendukung kemerdekaan pada waktu itu. tetapi, rencana dibatalkan karena menikah. Bung Tomo juga sempat berjuang di lereng gunung wilis.
Setelah kemerdekaan, Bung Tomo mencari pekerjaan tetapi, dia tidak mendapatkannya sehingga Bung Tomo dan istrinya pindah rumah bekas Ny. Wolf yang ditinggalkan. Dia juga tinggal bersama beberapa teman seperjuangannya. Demi kehidupan, Bung Tomo sempat membuka kursus jurnalistik.
Disamping itu , Bung Tomo pernah merasakan dalam urusan kenegaraan antara lain :
– Mentri Negara urusan bekas pejuang bersenjata/ veteran/ menteri sosial Ad-interim 1955-1956 (atas usul Bung Hatta)
– Anggota DPR RI hasil PEMILU pertama 1956 – 1959
– Ketua II (Bidang Ideologi Sosial Politik) markas besar legiun veteran
Kisah Bung Tomo inilah yang menginspirasi crator MSV Pictures untuk membuat film battle of surabaya.
Bahkan suara asli beliau saat membakar semangat para pejuang ditahun 1945 ikut bergaung difilm ini.

Senjata M1 Garand

Gara- gara ucapan Jendral George S. Patton yang mengakui bahwa M1 Garand adalah “Alat tempur paling hebat yang pernah diciptakan”, senjata inipun dinobatkan sebagai senapan yang handal dalam pemakaiannya pada perang dunia II dan perang Vietnam. Senjata hasil design John C. Garand ini pernah diproduksi sampai 6 juta pucuk dan memiliki kecepatan peluru hingga 865 m/detik. Pertama kali digunakan oleh militer Amerika Serikat dan sebagai senapan standar Infantri mereka. Dalam film Battle of Surabaya senapan semi-otomatis ini dipakai oleh pasukan Inggris.

Spesifikasi :

Weight 9.5 lb (4.31 kg) to 11.6 lb (5.3 kg)
Length 43.5 in (1,100 mm)
Barrel length
24 in (609.6 mm)

Cartridge
.30-06 Springfield (7.62x63mm)
7.62x51mm NATO (.308 Winchester) (Used by the U.S. Navy and some commercial companies to modernize the M1 and increase performance)
Action
Gas-operated, rotating bolt

Rate of fire
40-50 rounds/min
Muzzle velocity
2,800 ft/s (853 m/s)
Effective range 500 yd (457 m)[4]

Feed system
8-round “en bloc” clip, internal magazine
Sights Aperture rear sight, barleycorn-type front sight

Dibalik Tokoh Film Battle Of Surabaya

Film animasi akan menjadi hidup dan bermakna jika ada orang atau dubber yang mengisi suara disetiap tokoh animasi, Dubber adalah pengisi suara yang memberikan suaranya yang digunakan untuk memberi suara pada karakter kartun, untuk radio dan televisi, drama suara, permainan, pertunjukan boneka. Sehingga film menjadi lebih hidup dan bermakna.
Namun banyak dari kita tidak tahu siapa sebenarnya suara dibalik tokoh fiksi disetiap film kartun. Dalam pembuatan film Battle Of Surabaya yang teasernya sudah keluar dan mendapatkan respon sangat baik dari para penonton lantas menjadikan paling popular disitus Youtube itu pengisi suara benar-benar diisi oleh orang asli dari negara asal tokoh tersebut,antara lain melibatkan artis seperti Mr.Pattrick ,Okuyama Noriko, mereka semua berasal dari negara tokoh yang berada dalam film Battle Of Surabaya seperti belanda dan jepang, karena kita ingin memberikan film yang terbaik. Merdeka!!!.

1

 

Tanggapan Positif dari SMK N 1 Sumedang dan SMK Takeran Magetan tentang Film Battle Of Surabaya

Dalam satu hari STMIK AMIKOM Yogyakarta mendapat kunjungan dari dua SMK diantaranya SMK Negeri 1 Sumedang dan SMK Takeran Magetan. Jumlah total peserta dari kedua SMK tersebut kurang lebih 350 peserta. Agenda rutin dari divisi HUMAS film BATTLE OF SURABAYA adalah membagi kuesioner kepada seluruh peserta kunjungan STMIK AMIKOM Yogyakarta dengan ramah dan penuh semangat. Tanggapan dari sebagian peserta terhadap Triller Film BATTLE OF SURABAYA adalah berharap segera bisa menonton Film BATTLE OF SURABAYA di Bioskop. MERDEKA!!!. ***

IMG_2557

Bung Tomo, Pahlawan yang Sempat Tak Diakui

“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!

itulah sedikit petikan pidato Bung Tomo yang membakar semangat para pejuang untuk mengusir penjajah dari kota pahlawan.

Siapa yang tidak kenal Bung Tomo, Pria yang hampir selalu digambarkan dengan sosok penuh semangat, jari menunjuk ke atas dan tatapan mata tajam di buku-buku pelajaran itu adalah seorang tokoh penting dalam pertempuran besar di Surabaya. Sosok penyebar semangat arek-arek Surabaya yang namanya didengung-dengungkan terutama menjelang Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November itu dikenal sebagai Singa Podium yang pidatonya bukan hanya menghipnotis tapi juga mampu membakar jiwa-jiwa muda yang sedang berjuang melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia pada masa itu.

Lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920, Sutomo atau lebih dikenal sebagai Bung Tomo adalah sosok yang aktif berorganisasi sejak remaja. Tumbuh di masa-masa sulit, masa penjajahan, Bung Tomo menjelma menjadi seorang pemuda yang tangguh. Tertarik dengan dunia jurnalisme, pada masa mudanya Bung Tomo tercatat sebagai wartawan freelance pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya 1937. Pada tahun 1939 Bung Tomo menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa di Ekspres, Surabaya. Terakhir beliau tercatat sebagai Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya 1945.

Jiwa kepahlawanan Bung Tomo tidak perlu diragukan lagi. Sejarah mencatat seorang Bung Tomo sebagai sosok yang cinta tanah air, tak gentar melawan penjajah dan terus mengobarkan semangat para pejuang pada masanya. Sosok yang namanya telah melekat erat pada rakyat Indonesia umumnya serta warga Surabaya, arek-arek Surabaya khususnya, sebagai seorang pahlawan ini ternyata baru mendapat gelar pahlawan setelah dua puluh tujuh tahun wafat.

Sosok yang sejak kita sekolah, diajarkan di pelajaran sejarah, kita anggap sebagai pahlawan karena perjuangannya mulai dari melawan penjajah sampai mempertahankan kedaulatan republik ini yang sempat hendak diusik lagi oleh Belanda ternyata dulunya tidak diakui sebagai pahlawan oleh pemerintah kita. Bung Tomo, pahlawan pengobar semangat juang arek-arek Surabaya ini baru mendapat gelar pahlawan secara resmi dari pemerintah pada tahun 2008, yang disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/TH 2008.

Sesuatu yang menimbulkan tanda tanya besar, meski kemudian jika kita menilik kembali sepak terjang beliau pada masanya hal ini tidak lagi mengejutkan. Bung Tomo bukan hanya seorang pejuang yang kritis terhadap penjajah, beliau adalah sosok yang juga kritis terhadap pemerintah. Pada jaman orde baru, pemerintahan Soeharto, Bung Tomo bahkan sempat dipenjara. Kritik-krtitiknya terhadap pemerintah waktu itu membuat gerah penguasa. Pemikiran-pemikirannya yang kritis bisa dibaca di bukunya, Menembus Kabut Gelap: Bung Tomo Menggugat.

Menurut KBBI, pahlawan diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Kalau menilik pendefinisian di atas kiranya tak salah kalau selama ini kita menganggap Bung Tomo sebagai pahlawan meskipun, sekali lagi, ternyata pemerintah kita baru mengakui belum lama ini. Akan tetapi terlepas dari pengakuan pemerintah, ataupun pendefinisian, jasa Bung Tomo patut kita hargai. Bukan itu saja, di masa di mana kita sudah dinyatakan, diakui merdeka tapi ternyata masih “terjajah” ini, jiwa kepahlawanan seperti Bung Tomo sangat dibutuhkan. Bangsa kita butuh pahlawan-pahlawan untuk membawa bangsa ini menuju terwujudnya cita-cita bersama, cita-cita yang tertuang dalam butir-butir Pancasila terutama sila kelima, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Cita-cita yang sepertinya masih sekadar pengakuan, tertulis, resmi, tapi belum benar-benar diamalkan.

Saya yakin Bung Tomo tidak butuh gelar pahlawan. Seorang pahlawan sejati tidak butuh pengakuan, dari siapapun. Bahkan, seorang pahlawan tidak akan merasa dirinya pahlawan karena dia berjuang dengan niat yang ikhlas demi terwujudnya cita-cita bersama, bukan untuk sebuah pengakuan atau sebutan pahlawan. Saya juga percaya ada jiwa pahlawan pada setiap diri manusia. Diakui atau tidak, dihargai atau tidak perjuangan kita, mengutip kata-kata Soe Hok Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran, “Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.”. ***

http://sosok.kompasiana.com

sejarah.kompasiana.com

 

 

 

Senjata yang dipakai sekutu dalam pertempuran 10 november 1945

Pasukan inggris merapat ke Dermaga Tanjung Perak dengan bersenjata lengkap yang di pimpin BRIGADER JENDRAL A.W.S. MALLABY untuk menyerang kota Surabaya. Senjata yang di gunakan Inggris pada saat pertempuran 10 november 1945 di Surabaya salah satunya  adalah Senapan Bren MK.I caliber 7,7 mm yang disebut juga Senapan Mesin Ringan (SMR). Senjata yang memiliki laras sepanjang 20 inci dengan kaliber 303 dan jarak tembak efektif 400-500 m serta kecepatan tembak 500 butir/ menit di produksi tahun 1937 oleh Inggris, selain di gunakan dalam pertempuran 10 November Bren MK.I caliber 7,7 mm juga di gunakan pada perang dunia II (PD II) oleh negara Inggris. ***

 

Surabaya Terdapat Banyak Mobil Limousin

Meski ada gencatan senjata, tetap saja terjadi keributan antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945. Mobil Buick yang sedang ditumpangi Brigjen Mallaby dicegat oleh sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Karena terjadi salah paham, maka terjadilah tembak menembak yang akhirnya membuat mobil jenderal Inggris itu meledak terkena tembakan. Mobil itu pun hangus.

Mobil Buick Limousine yang dipergunakan Jendral Mallaby itu buatan tahun 1941. Sementara di Surabaya, waktu itu banyak mobil limousine yang lebih tua, yakni buatan tahun 1938. (Dari berbagai sumber).

 

rajagam wordpress

Page 5 of 6« First...23456